Tuesday, June 22, 2010

Tidak ada Larangan (Bukan Bid’ah) Dzikir dengan Tasbih



Penggunaan Tasbih bukanlah bid’ah sesat
Sering yang kita dengar dari golongan muslimin diantaranya dari madzhab Wahabi/Salafi dan pengikutnya yang melarang orang menggunakan Tasbih waktu berdzikir. Sudah tentusebagaimana kebiasaan golongan ini alasan mereka melarang dan sampai-sampai berani membid’ahkan sesat karena menurut paham mereka bahwa Rasulallah saw. para sahabat tidak ada yang menggunakan tasbih waktu berdzikir.

‘Tasbih’ atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan nama ‘Subhah’ adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung jumlah banyaknya dzikir yang diucapkan oleh seseorang, dengan lidah atau dengan hati. Dalam bahasa Sanskerta kuno, tasbih disebut dengan nama Jibmala yang berarti hitungan dzikir.
Orang berbeda pendapat mengenai asal-usul penggunaan tasbih. Ada yang mengatakan bahwa tasbih berasal dari orang Arab, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa tasbih berasal dari India yaitu dari kebiasaan orang-orang Hindu. Ada pula orang yang mengatakan bahwa pada mulanya kebiasaan memakai tasbih dilakukan oleh kaum Brahmana di India. Setelah Budhisme lahir, para biksu Budha menggunakan tasbih menurut hitungan Wisnuisme, yaitu 108 butir. Ketika Budhisme menyebar keberbagai negeri, para rahib Nasrani juga menggunakan tasbih, meniru biksu-biksu Budha. Semuanya ini terjadi pada zaman sebelum islam.
Kemudian datanglah Islam, suatu agama yang memerintahkan para pemeluk nya untuk berdzikir (ingat) juga kepada Allah swt. sebagai salah satu bentuk peribadatan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.. Perintah dzikir bersifat umum, tanpa pembatasan jumlah tertentu dan tidak terikat juga oleh keadaan-keadaan tertentu. Banyak sekali firman Allah swt. dalam Al-Qur’an agar orang banyak berdzikir dalam setiap keadaan atau situasi, umpama berdzikir sambil berdiri, duduk, berbaring dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan itu terdapat banyak hadits yang menganjurkan jumlah dan waktu berdzikir, misalnya seusai sholat fardhu yaitu tiga puluh tiga kali dengan ucapan Subhanallah, tiga puluh tiga kali Alhamdulillah dan tiga puluh tiga kali Allahu Akbar, kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan ucapan kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu….’. Kecuali itu terdapat pula hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan berbagai ucapan dzikir bila disebut sepuluh atau seratus kali. Dengan adanya hadits-hadits yang menetapkan jumlah dzikir seperti itu maka dengan sendirinya orang yang berdzikir perlu mengetahui jumlahnya yang pasti.

A. Hadits-hadits yang berkaitan dengan cara menghitung dzikir

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Al-Hakim berasal dari Ibnu Umar ra. yang mengatakan:
“Rasulallah saw. menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyarankan para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau saw.”Para Imam ahli hadits tersebut juga meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Bisrah, seorang wanita dari kaum Muhajirin, yang mengatakan bahwa Rasulallah saw. pernah berkata:
“Hendaklah kalian senantiasa bertasbih (berdzikir), bertahlil dan bertaqdis (yakni berdzikir dengan menyebut ke–Esa-an dan ke-Suci-an Allah swt.). Janganlah kalian sampai lupa hingga kalian akan melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, karena jari-jari kelak akan ditanya oleh Allah dan akan diminta berbicara” .
Perhatikanlah: Anjuran menghitung dengan jari dalam hadits itu tidak berarti melarang orang menghitung dzikir dengan cara lain. Untuk mengharamkan atau memunkarkan suatu amalan haruslah mendatangkan nash yang khusus tentang itu, tidak seenaknya sendiri saja.

2. Imam Tirmidzi, Al-Hakim dan Thabarani meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Shofiyyah yang mengatakan: “Bahwa pada suatu saat Rasulallah saw. datang kerumahnya. Beliau melihat empat ribu butir biji kurma yang biasa digunakan oleh Shofiyyah untuk menghitung dzikir. Beliau saw. bertanya; ‘Hai binti Huyay, apakah itu ?‘ Shofiyyah menjawab ; ‘Itulah yang kupergunakan untuk menghitung dzikir’. Beliau saw. berkata lagi; ‘Sesungguhnya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu’. Shofiyyah menyahut; ‘Ya Rasulallah, ajarilah aku’. Rasulallah saw. kemudian berkata; ‘Sebutlah, Maha Suci Allah sebanyak ciptaan-Nya’ ”. (Hadits shohih).

3. Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dinilai sebagai hadits hasan/baik oleh An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim yaitu hadits yang berasal dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. yang mengatakan:
“Bahwa pada suatu hari Rasulallah saw. singgah dirumah seorang wanita. Beliau melihat banyak batu kerikil yang biasa dipergunakan oleh wanita itu untuk menghitung dzikir. Beliau bertanya; ‘Maukah engkau kuberitahu cara yang lebih mudah dari itu dan lebih afdhal/utama ?’ Sebut sajalah kalimat-kalimat sebagai berikut :
‘Subhanallahi ‘adada maa kholaga fis samaai, subhanallahi ‘adada maa kholaga fil ardhi, subhanallahi ‘adada maa baina dzaalika, Allahu akbaru mitslu dzaalika, wal hamdu lillahi mitslu dzaalika, wa laa ilaaha illallahu mitslu dzaalika wa laa guwwata illaa billahi mitslu dzaalika’ ”.
Yang artinya : ‘Maha suci Allah sebanyak makhluk-Nya yang dilangit, Maha suci Allah sebanyak makhluk-Nya yang dibumi, Maha suci Allah sebanyak makhluk ciptaan-Nya. (sebutkan juga) Allah Maha Besar, seperti tadi, Puji syukur kepada Allah seperti tadi, Tidak ada Tuhan selain Allah, seperti tadi dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah, seperti tadi !’ “.


Lihat dua hadits diatas ini, Rasulallah saw. melihat Shofiyyah menggunakan biji kurma untuk menghitung dzikirnya, beliau saw. tidak melarangnya atau tidak mengatakan bahwa dia harus berdzikir dengan jari-jarinya, malah beliau saw. berkata kepadanya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu . Begitu juga beliau saw. tidak melarang seorang wanita lainnya yang menggunakan batu kerikil untuk menghitung dzikirnya dengan kata lain beliau saw. tidak mengatakan kepada wanita itu, buanglah batu kerikil itu dan hitunglah dzikirmu dengan jari-jarimu.
Beliau saw. malah mengajarkan kepada mereka berdua bacaan-bacaan yang lebih utama dan lebih mudah dibaca. Sedangkan berapa jumlah dzikir yang harus dibaca, tidak ditentukan oleh Rasulallah saw. jadi terserah kemampuan mereka.
Banyak riwayat bahwa para sahabat Nabi saw. dan kaum salaf yang sholeh pun menggunakan biji kurma, batu-batu kerikil, bundelan-bundelan benang dan lain sebagainya untuk menghitung dzikir yang dibaca. Ternyata tidak ada orang yang menyalahkan atau membid’ahkan sesat mereka.

4. Imam Ahmad bin Hanbal didalam Musnadnya meriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Shofiyyah menghitung dzikirnya dengan batu-batu kerikil. Riwayat ini dikemukakan juga oleh Imam Al-Baihaqi dalam Mu’jamus Shahabah; ”‘bahwa Abu Shofiyyah, maula Rasulallah saw. menghamparkan selembar kulit kemudian mengambil sebuah kantong berisi batu-batu kerikil, lalu duduk berdzikir hingga tengah hari. Setelah itu ia menyingkirkannya. Seusai sholat dhuhur ia mengambilnya lagi lalu berdzikir hingga sore hari “.

5. Abu Dawud meriwayatkan; ‘bahwa Abu Hurairah ra. mempunyai sebuah kantong berisi batu kerikil. Ia duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya ditunggui oleh seorang hamba sahaya wanita berkulit hitam. Abu Hurairah berdzikir dan menghitungnya dengan batu-batu kerikil yang berada dalam kantong itu. Bila batu-batu itu habis dipergunakan, hamba sahayanya menyerahkan kembali batu-batu kerikil itu kepadanya’.

6. Abu Syaibah juga mengutip hadits ‘Ikrimah yang mengatakan; ‘bahwa Abu Hurairah mempunyai seutas benang dengan bundelan seribu buah. Ia baru tidur setelah berdzikir dua belas ribu kali’.

7. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya bab Zuhud mengemukakan; ‘bahwa Abu Darda ra. mempunyai sejumlah biji kurma yang disimpan dalam kantong. Usai sholat shubuh biji kurma itu dikeluarkan satu persatu untuk menghitung dzikir hingga habis’.

8. Abu Syaibah juga mengatakan; ‘bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ra menghitung dzikirnya dengan batu kerikil atau biji kurma. Demikian pula Abu Sa’id Al-Khudri ’.

9. Dalam kitab Al-Manahil Al-Musalsalah Abdulbaqi mengetengahkan sebuah riwayat yang mengatakan; ‘bahwa Fathimah binti Al-Husain ra mempunyai benang yang banyak bundelannya untuk menghitung dzikir ’.

10. Dalam kitab Al-Kamil , Al-Mubarrad mengatakan; “bahwa ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas ra (wafat th 110 H) mempunyai lima ratus butir biji zaitun. Tiap hari ia menghitung raka’at-raka’at sholat sunnahnya dengan biji itu, sehingga banyak orang yang menyebut namanya dengan ‘Dzu Nafatsat’ “.

11. Abul Qasim At-Thabari dalam kitab Karamatul-Auliya mengatakan: ‘Banyak sekali orang-orang keramat yang menggunakan tasbih untuk menghitung dzikir, antara lain Syeikh Abu Muslim Al-Khaulani dan lain-lain’. 

 
B. Tidak ada Larangan terhadap penggunaan Tasbih dalam Dzikir
Menurut riwayat bentuk tasbih yang kita kenal pada zaman sekarang ini baru dipergunakan orang mulai abad ke 2 Hijriah. Ketika itu nama ‘tasbih’ belum digunanakan untuk menyebut alat penghitung dzikir. Hal itu diperkuat oleh Az-Zabidi yang mengutip keterangan dari gurunya didalam kitab Tajul-‘Arus . Sejak masa itu tasbih mulai banyak dipergunakan orang dimana-mana. Pada masa itu masih ada beberapa ulama yang memandang penggunaan tasbih untuk menghitung dzikir sebagai hal yang kurang baik. Oleh karena itu tidak aneh kalau ada orang yang pernah bertanya pada seorang Waliyullah yang bernama Al-Junaid: ‘Apakah orang semulia anda mau memegang tasbih ?. Al-Junaid menjawab: ‘Jalan yang mendekatkan diriku kepada Allah swt. tidak akan kutinggalkan’.(Ar-Risalah Al-Qusyariyyah).
Sejak abad ke 5 Hijriah penggunaan tasbih makin meluas dikalangan kaum muslimin, termasuk kaum wanitanya yang tekun beribadah. Tidak ada berita riwayat, baik yang berasal dari kaum Salaf maupun dari kaum Khalaf (generasi muslimin berikutnya) yang menyebutkan adanya larangan penggunaan tasbih, dan tidak ada pula yang memandang penggunaan tasbih sebagai perbuatan munkar!!
Pada zaman kita sekarang ini bentuk tasbih terdiri dari seratus buah butiran atau tiga puluh tiga butir, sesuai dengan jumlah banyaknya dzikir yang disebut-sebut dalam hadits-hadits shohih. Bentuk tasbih ini malah lebih praktis dan mudah dibandingkan pada masa zaman nya Rasulallah saw. dan masa sebelum abad kedua Hijriah. Begitu juga untuk menghitung jumlah dzikir agama Islam tidak menetapkan cara tertentu. Hal itu diserahkan kepada masing-masing orang yang berdzikir.
Cara apa saja untuk menghitung bacaan dzikir itu asalkan bacaan dan alat menghitung yang tidak yang dilarang menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw.. itu mustahab/baik untuk diamalkan. Berdasarkan riwayat-riwayat hadits yang telah dikemukakan diatas jelaslah, bahwa menghitung dzikir bukan dengan jari adalah sah/boleh. Begitu juga benda apa pun yang digunakan sebagai tasbih untuk menghitung dzikir, tidak bisa lain, orang tetap menggunakan tangan atau jarinya juga, bukan menggunakan kakinya!! Dengan demikian jari-jari ini juga digunakan untuk kebaikan . Malah sekarang banyak kita para ulama pakar maupun kaum muslimin lainnya sering menggunakan tasbih bila berdzikir.
Jadi masalah menghitung dengan butiran-butiran tasbih sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan, apalagi kalau ada orang yang menganggapnya sebagai ‘bid’ah dholalah’. Yang perlu kita ketahui ialah : Manakah yang lebih baik, menghitung dzikir dengan jari tanpa menggunakan tasbih ataukah dengan menggunakan tasbih ?
Menurut Ibnu ‘Umar ra. menghitung dzikir dengan jari (daripada dengan batu kerikil, biji kurma dll) lebih afdhal/utama. Akan tetapi Ibnu ‘Umar juga mengatakan jika orang yang berdzikir tidak akan salah hitung dengan menggunakan jari, itulah yang afdhal. Jika tidak demikian maka mengguna- kan tasbih lebih afdhal.
Perlu juga diketahui, bahwa menghitung dzikir dengan tasbih disunnahkan menggunakan tangan kanan, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Salaf. Hal itu disebut dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain. Dalam soal dzikir yang paling penting dan wajib diperhatikan baik-baik ialah kekhusyu’an, apa yang diucapkan dengan lisan juga dalam hati mengikutinya. Maksudnya bila lisan mengucapkan Subhanallah maka dalam hati juga memantapkan kata-kata yang sama yaitu Subhanallah. Allah swt. melihat apa yang ada didalam hati orang yang berdzikir, bukan melihat kepada benda (tasbih) yang digunakan untuk menghitung dzikir. Wallahu a’lam.
Insya Allah dengan keterangan singkat ini, para pembaca bisa menilai sendiri apakah benar yang dikatakan golongan pengingkar bahwa penggunaan Tasbih adalah munkar, bid’ah dholalah/sesat dn lain sebagainya ??? Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada semua kaum muslimin. Amin.
Semoga dengan keterangan sebelumnya mengenai akidah golongan Wahabi/Salafi serta pengikutnya dan keterangan bid’ah yang singkat ini insya-Allah bisa membuka hati kita masing-masing agar tidak mudah mensesatkan, mengkafirkan dan sebagainya pada saudara muslim kita sendiri yang sedang melakukan ritual-ritual Islam begitu juga yang berlainan madzhab dengan madzhab kita.

Buku baru yang berjudul Telaah kritis atas doktrin faham Salafi/ Wahabi belum beredar merata pada toko-toko buku di Indonesia. Bagi peminat bisa langsung hubungi toko-toko di jalan Sasak. Surabaya-Indonesia.

http://salafytobat.wordpress.com

Saturday, June 19, 2010

Dalil Al Quran dzikir dengan menyebut nama Allah ( Allah ... Allah … Allah … )

Dalil Al Quran dzikir dengan menyebut nama Allah ( Allah ... Allah … Allah 

Assalamu alaikum, 

Banyak orang-orang menyangsikan adanya dalil yang memperbolehkan kita dzikir dengan menyebut Allah, Allah, Allah.
Dalil dzikir dengan menyebut nama Allah, Allah, Allah menurut Al Quranul karim adalah sebagai berikut :
1. QS Al Ahzab 35 : Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut  Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
2. QS Al A’raaf 205 : Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
3. QS Al Baqarah 114 : Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah), mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Pertanyaannya, apakah ada dalil lain yang melarang berdzikir dengan menyebut nama Allah?
 Hanya orang-orang yang ditutup hatinya oleh Allah SWT yang melarang berdzikir dengan nama Allah (Allah … Allah … Allah).
Ayat-ayat di atas menjelaskan keutamaan banyak-banyak menyebut nama Allah SWT. Dan jelas dari ayat Quran diatas kita disuruh untuk menyebut nama Allah SWT yaitu Sang Pemilik Nama.

Dan Allah SWT menjanjikan orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah  di dunia akan mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Mari kita kembali ke jalan yang lurus yang di tunjukkan dalam Al Quran dan As Sunnah, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ampunan Allah SWT dan termasuk orang-orang yang selamat dunia akhirat. Amiin..

Was salam

Friday, April 30, 2010

Dikubur 26 Tahun, Jasad Kiai Utuh

Dikubur 26 Tahun, Jasad Kiai Utuh
TANGERANG, KOMPAS.com

Warga Jalan Garuda Pintu Air RT 03 RW 02, Kelurahan Juru Mudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, dua pekan lalu sempat dihebohkan seputar pembongkaran makam KH Abdullah Mukmin. Pasalnya, saat dibongkar, jasad kiai tersebut masih dalam kondisi utuh kendati telah meninggal 26 tahun silam.
Alhasil, kini makam kiai yang juga mantan Wakil Ketua Pengadilan Agama Tangerang itu menjadi pusat perhatian warga. “Ada saja yang datang ke sini. Ada yang ziarah, ada juga yang sekadar melihat-lihat,” kata Ahmad Pathi, anak keempat dari tujuh bersaudara mendiang KH Abdullah Mukmin saat ditemui pada Selasa (18/8/2009) petang.
Dalam kesempatan itu, Ahmad ditemani kakak sulungnya, Mukhtar Ali. Mukhtar mengatakan, pihaknya mengizinkan warga yang ingin berziarah ataupun hanya untuk melihat makam mendiang ayah mereka yang meninggal pada 22 Oktober 1983. Ayah mereka meninggal karena gagal ginjal dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Terkait pembongkaran makam tersebut, menurut Ahmad, karena terkait proyek Pemerintah Kota Tangerang untuk pelebaran Jalan Benda. Proyek pelebaran jalan ini untuk membuka akses lebih lebar menuju Bandara Soekarno-Hatta yang memang tidak jauh dari lokasi pemakaman tersebut.
Ahmad mengatakan, lokasi kuburan awal ayahnya berada di areal Musala An-Najat. Lokasinya di bibir Kali Ciajane dan tidak jauh dari Pondok Pesantren As-Ashidiqiyah II milik KH Iskandar Mohammad SQ.
Ahmad yang ketika itu ikut dalam pembongkaran makam mengaku perasaannya antara percaya dan tidak ketika melihat jasad ayahnya masih dalam kondisi utuh. Selain kondisi jasad, papan penutup jenazah pun dalam kondisi utuh, sama sekali tidak lapuk.
“Kain kafan masih utuh, waktu mau dipindahin, kain cuma kotor terkena lumpur. Jadi, cuma saya siram-siram air sedikit sudah bersih lagi. Papan penutup yang sampai ke dasar juga utuh,” kata Ahmad seraya memperlihatkan papan tersebut yang katanya dari kayu kamper. “Saya sempat menyimpan dua papan buat kenang-kenangan,” katanya.
Bahkan, imbuh Ahmad, papan bekas penutup makam tersebut sempat ada yang memintanya, tapi ia menolaknya. Untuk apa? “Saya enggak tahu buat apa,” katanya.
Mukhtar menambahkan, waktu makam dibongkar, kain kafan yang melilit tubuh jasad ayahnya masih utuh dan berwarna putih bersih. “Saya sempat lihat wajahnya, masih seperti 26 tahun waktu dulu dikubur, enggak berubah. Badannya juga masih seperti dulu, cuma rambutnya agak memutih. Baunya wangi sekali,” imbuhnya.
Disinggung seperti apa sosok mendiang, menurut Mukhtar, ayahnya dikenal sebagai guru dan juga tokoh masyakarat yang disegani. Abdullah Mukmin datang ke Kelurahan Juru Mudi pada 1950-an setelah belajar di Darul Ulum, Mekkah, selama 25 tahun.
Abdullah memiliki tiga istri. Istri pertama, Rohani, meninggal dan dikarunia dua anak. Abdullah menikah untuk kedua kalinya dengan Maswani dan dikarunia lima anak, tetapi Maswani lebih dulu dipanggil Sang Khalik. Terakhir, Abdullah menikahi Hajah Romlah asal Kramat Pulo, tetapi tidak dikarunia anak.
Semasa hidupnya, di lingkungan itu Abdullah mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) yang diberi nama MI Islahuddiniyah, yang berada di depan rumahnya. Kini MI ini dikelola putranya, Abdul Zibaqi. Gedung MI ini pun sebagian tergusur.
Adapun makam mendiang yang sebelumnya berada di samping Musala An-Najat, menurut Ahmad, merupakan permintaan mendiang sebelum meninggal. “Waktu itu pesannya kalau meninggal minta dimakamkan di samping Musala An-Najat,” kata Ahmad.
Kini, makam baru KH Abullah Mukmin terletak persis di depan rumah Ahmad atau digeser beberapa meter dari lokasi semula. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudllah Mukmin, makam putra keduanya bernama M Subur, dan makam Maswani, istri kedua mendiang yang juga ibu kandung Ahmad.
Terkait kondisi jasad ayahnya yang masih utuh, Ahmad mengaku tak mendapatkan tanda-tanda tertentu sebelumnya. “Cuma saya pernah mendengar kalau jasad seorang kiai itu katanya utuh, tidak seperti yang lain. Saya bukan bermaksud mau menyombongkan diri, mudah-mudah apa kata orang itu benar terkait ayah saya,” tandas Ahmad.

Sumber : www.kompas.com tanggal 19 Agustus 2009


Jasad Masih Utuh Selama 26 Tahun Makam Kiai Abdullah Ramai Diziarahi

Saat dilakukan pembongkaran makam, jasad Kiai Abdullah Mukmin masih utuh. Padahal usia jasad tersebut sudah 26 tahun. Kini, makam barunya pun sering didatangi warga, baik yang ingin berziarah atau hanya ingin melihat saja.
"Sejak dua minggu ini, banyak orang yang datang ke sini, ada yang penasaran pengen tahu dan berziarah," kata Mukhtar Ali saat ditemui detikcom di makam almarhum KH Abdullah Mukmin di Jl Garuda Pintu Air, RT 03 RW 02 Kelurahan Juru Mudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Selasa (18/8/2009).
Seperti diberitkan sebelumnya, Pemerintah Kota Tangerang melakukan penggusuran tanah terkait pelaksanaan proyek pelebaran jalan di Benda. Proyek pelebaran jalan ini untuk membuka akses lebih lebar menuju Bandara Soekarno-Hatta yang memang tidak jauh dari lokasi pemakaman itu sendiri.
Mukhtar, yang merupakan putra sulung almarhum KH Abdullah Mukmin ini mengatakan, lokasi kuburan awal ayahnya ini berada di Mushollah An-Najat. Lokasinya bibir Kali Ciajane dan tidak jauh Ponpes As-Ashidiqiah II milik KH Iskandar SQ.
"Saat dibongkar keluarga dan masyarakat di sini tidak tahu. Namun waktu mengetahui kondisinya baru heboh, semua orang pada berdatangan termasuk wartawan," ujar Mukhtar polos.
Bahkan, Mukhtar mengatakan, Kapolresta Tangerang sampai tiga kali datang dan memerintahkan anak buahnya untuk mengambil rekaman pembongkaran dan kondisi jasad yang diyakini sebagai orang alim dan soleh itu.
"Waktu dibongkar kain kafan yang melilit ditubuh bapak masih utuh dan berwarna putih. Saya sempat lihat wajahnya, masih seperti 26 tahun waktu dikubur, nggak berubah. Badannya juga masih seperti dulu, cuma rambutnya agak memutih. Baunya sangat wangi sekali," terangnya.
Diakui Mukhtar, sosok ayahnya selama ini dikenal sebagai seorang guru. Abdullah datang ke Juru Mudi pada tahun 1950-an, setelah belajar di Darul Ulum, Makkah selama 25 tahun. Abdullah yang memiliki dua istri dan dikarunia 6 putra.
Saat tiba di Juru Mudi, Abddulah pun mendirikan sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang diberi nama Islahuddiniyah, yang berada di depan rumahnya. Kini madrasah ini dikelola oleh putranya Abdul Zibaqi. Madrasah ini pun sebagian tergusur dan tengah dalam pembangunan.
"Karena kemampuan dan ilmu agama yang bapak miliki, bapak sempat dipercaya pemerintah dan negara untuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama di Tangerang," terangnya.
Abdullah, lanjut Mukhtar, selain mengajar mengaji kepada warga masyarakat, juga sering memberikan pertolongan untuk menyembuhkan penyakit. "Tapi bapak tidak pernah mau mengajarkan ilmu pengobatan itu. Bapak maunya mengajar ngaji saja," tandasnya.
Saat ini, lokasi makam KH Abdullah Mukmin letaknya digeser beberapa meter ke sekitar perumahan keluarganya. Di makam itu ada tiga, yaitu KH Abdullah Mukmin, putra keduanya bernama M Subur dan satu kuburan yang belum diberi nisan.

Sumber : detik.com

Catatan Kaki:
Subhanallah, di atas adalah contoh dari seorang syudaha yang konsisten terhadap Islam. Di negara kita Indonesia ini, banyak sekelompok orang yang menyatakan paling baik, paling benar, paling sesuai dengan sunnah, muslim yang lain kafir, musyrik dll.
Sebenarnya jawabannya adalah mudah, apabila orang yang menyatakan paling baik dan paling benar sesuai sunnah tersebut wafat, maka kita tunggu saja 10 tahun setelah dia wafat, apakah jasadnya masih utuh?
Sekian.

Wassalam

Saturday, January 2, 2010

Hadits Arbain An Nawawiyah

 HADITS PERTAMA

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطّابِ رَضِيَ الُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الِ صلى ال
عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنّمَا اْلَعْمَالُ بِالنّيّاتِ وَإِنّمَا لِكُلّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى الِ
وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى الِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا
هَاجَرَ إِلَيْهِ .
]رواه إماما المحدثين أبو عبد ال محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري
وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب
المصنفة[

Terjemahan Hadits :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).


HADITS KEDUA
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ الُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ الِ صَلّى الُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ذَاتَ يَوْمٍ
إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشّعْرِ، لَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السّفَرِ، وَلَ يَعْرِفُهُ مِنّا
أَحَدٌ، حَتّى جَلَسَ إِلَى النّبِيّ صلى ال عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ
وَقَالَ: يَا مُحَمّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلِسْلَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الِ صلى ال عليه وسلم : اْلِسِلَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَ
إِلَهَ إِلّ الُ وَأَنّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ الِ وَتُقِيْمَ الصّلَةَ وَتُؤْتِيَ الزّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجّ الْبَيْتَ إِنِ
اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلِيْمَانِ قَالَ : أَنْ
تُؤْمِنَ بِالِ وَمَلَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ الَ كَأَنّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ
السّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلَمَةُ رَبّتَهَا
وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيّا، ثُمّ قَالَ : يَا
عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السّائِلِ ؟ قُلْتُ : الُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
]رواه مسلم[


Terjemahan Hadits :
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?
maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu,
kemudian dia berkata: anda benar.
Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian dia bertanya lagi: Beritahukan aku tentang Iman.
Lalu beliau bersabda: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk,
kemudian dia berkata: anda benar.
Kemudian dia berkata lagi: Beritahukan aku tentang ihsan.
Lalu beliau bersabda: Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau. 
Kemudian dia berkata: Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya).
Beliau bersabda:  Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. 
Dia berkata: Beritahukan aku tentang tanda-tandanya, beliau bersabda: Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: Tahukah engkau siapa yang bertanya ?.
Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Beliau bersabda: Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian.
(Riwayat Muslim)


HADITS KETIGA
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرّحْمَنِ عَبْدِ الِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطّابِ رَضِيَ الُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الِ صلى ال
وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلِسْلَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلّ الُ وَأَنّ مُحَمّداً رَسُوْلُ الِ وَإِقَامُ الصّلَةِ
وَإِيْتَاءُ الزّكَاةِ وَحَجّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.
]رواه الترمذي ومسلم [

Terjemahan Hadits :
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata :  
Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.
(Riwayat Turmuzi dan Muslim)


HADITS KEEMPAT
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرّحْمَنِ عَبْدِ الِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الُ عَنْهُ قَالَ : حَدّثَنَا رَسُوْلُ الِ صلى ال عليه وسلم
وَهُوَ الصّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ
ذَلِكَ، ثُمّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ
رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ الِ الّذِي لَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنّةِ
حَتّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنّ أَحَدَكُمْ
لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النّارِ حَتّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنّةِ
فَيَدْخُلُهَا
]رواه البخاري ومسلم[

Terjemah Hadits  : 
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka.
Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).

Wednesday, September 2, 2009

METODE SHALAT KHUSYU’

METODE SHALAT KHUSYU’
METODE MENYELARASKAN UCAPAN QALB DAN UCAPAN LISAN SAAT SHALAT
Oleh : Hamba Allah, Cileungsi ( Original )


Assalamu ‘Alaikum,
Bismilaahir Rahmaanir Rahiim,
Alhamdulillahilladzi lahuu maa fissamaawaati wa ma fil ‘ard, wa lahul hamdu fil aakhiroh wa huwa hakiimul khobiir.

Maha Suci Allah Yang Maha Mengetahui Perkara-Perkara Yang Ghaib. Dan Maha Suci Allah Yang Melimpahkan Rahmat dan Hidyah-Nya kepada semua makhluq-Nya.
Sudahkah kita shalat dengan khusyu’ ? Kemanakah pikiran kita saat shalat ? Apakah ucapan qalb kita selaras dengan ucapan lisan saat shalat?
Banyak orang yang shalat tetapi tidak mendapatkan apa-apa, malah perasaan yang kacau, Sehingga banyak orang meninggalkan shalat, bahkan mencari ketenangan qalb dengan memakai cara-cara non Islami yang kufur seperti Yoga dan sejenisnya. Sehingga malah terseret pada arus non Islami yang meracuni pikiran dan Qalb kita, bahkan dapat menjadikan manuasia kufur kepada Allah SWT. Masya Allah.
Shalat merupakan cara kontemplasi seorang muslim kepada Sang Pencipta yang menghimpun segala wirid dan dzikir.
Cara ini merupakan cara yang paling luar biasa bukan hanya muqarrabah dan ber munajah kepada Allah SWT, tapi menjadikan manusia sehat jiwa-raga serta mampu menghimpun segala energi yang ada di alam semesta ini.
Ada anggapan yang salah kita tidak lebih mengutamakan shalat tapi lebih memperhatikan dzikir berlama-lama setelah shalat. Kalau kita mampu berdzikir lama-lama mengapa kita tidak mampu shalat berlama-lama?
Kita tidak menyadari padahal saat shalat tidak ada hijab antara hamba dengan Sang Khaliq, kita berhadap-hadapan langsung dengan Allah SWT.
Bermacam macam metode dalam cara supaya shalat kita khusyu’ telah banyak dipaparkan, tetapi cara yang kami uraikan dibawah ini merupakan cara yang paling sederhana dan mudah menghilangkan pikiran yang yang melayang-layang saat kita shalat.

Segala Puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan pemahaman kepada kami. Semoga metode ini bermanfaat bagi kita semua kaum muslimin dan muslimah yang sedang mencari nikmatnya shalat, serta meluruskan niyatan kita bahwa hanya dengan shalat adalah cara yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan merupakan tataran keilmuan yang paling tinggi dalam memperoleh curahan ilmu dari Allah Yang Maha Haqq, dan shalat merupakan penghimpun nur energi yang luar biasa yang tidak bisa dicapai oleh cara-cara kontemplasi manapun termasuk meditasi yoga tataran tertinggi manapun dan sejenisnya.
Mengapa shalat merupakan tataran tertinggi dalam keilmuan ?
Junjungan kita Rasulullah Muhammad saw menerima perintah shalat Shalat setelah melalui proses yang sangat luar biasa, ISRA’ MI”RAJ yang tidak dilakukan oleh manusia manapun.
Sebenarnya metode shalat khusyu’ yang akan kami paparkan ini sederhana saja yaitu menyelaraskan bacaan shalat antara ucapan qalb - ucapan lisan dengan keluar masuknya nafas kita.
Dengan menyelaraskan ucapan bacaan shalat dengan keluar-masuknya nafas dengan sendirinya akan tercapai kondisi tuma’ninah.
Shalat yang terburu-buru biasanya nafasnya akan terengah-engah dan pikiran akan terbang atau melayang ke mana-mana.
Dengan metode yang kami terapkan ini diharapkan dapat menghilangkan semua ganguan tersebut.

Mengapa dengan memperhatikan keluar masuknya nafas?
Dengan memperhatikan nafas maka pikiran tidak akan melayang kemana-mana dan pikiran selalu berkonsentrasi pada bacaan shalat. Sehingga shalat akan menjadi khusyu’.

Metodenya adalah sebagai berikut :

Normal jumlah irama pernafasan manusia adalah 15 - 20 kali per menit, atau 15 - 20 kali inspirasi (nafas masuk) dan 15 - 20 kali ekspirasi (nafas keluar). Dengan demikian dalam 1 menit kita hanya membaca 15 – 20 ayat pendek (bila yang dibaca ayatnya panjang, maka bisa dipenggal sesuai dengan jeda kalimat tanda baca).
Niyat disini akan merupakan afirmasi pada otak dan qalb kita, sehingga akan merupakan tuning gelombang pikiran dan qalb kita hanya tertuju kepada Allah SWT
Saat membaca Allahu Akbar, tangan berada setinggi telinga.
Bacaan Allahu Akbar dibaca saat ekspirasi (mengeluarkan nafas).
Disini tidak hanya sekedar membaca takbir Allahu Akbar (Allah Maha Besar), tapi harus diresapi bahwa kita sangatlah kecil sekali dan tidak ada apa-apanya dibanding Allah SWT. Dengan demikian saat takbir kita dalam posisi atau keadaan hamba yang sangat kecil, sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali dihadapan Allah SWT. Kita sebagai hamba yang menyerah kalah dihadapan Allah SWT.
Lepaskan semua kesombongan, rasa takabur, keakuan kita dihadapan Allah SWT yang akan menghalagi curahan Nur-Nya.
Saat takbir dengan segala rasa kerendahan hati kita (saat tangan berada di samping telinga), maka bagi yang memiliki kepekaan rasa akan merasakan curahan nur dan hidayah Allah SWT pada hamba-Nya yang sangat lemah ini berupa getaran-getaran di tangan, kepala, dada maupun di seluruh tubuh kita. Hal ini bisa terjadi kadang sampai keluar keringat dingin, badan menjadi sangat ringan, atau badan terasa merinding (bergetar) karena kita hamba yang lemah ini menerima curahan nur kasih sayang dari Allah SWT yang luar biasa.
Keadaan seperti ini hanya dapat dirasakan apabila Qalb dan pikiran kita sudah dalam keadaan menyerah kalah angkat tangan dihadapan Allah SWT.
Takbiratul Ihram : Inspirasi
Ekspirasi : Allaaaahu Akbar
Rasakan getaran energi akan terasa pada telapak tangan, bila konsentrasi

Mengapa tangan diletakan di pertengahan dada agak ke ulu hati, bukan di pinggir kiri atau kanan. Di dada bagian tengah terdapat kumpulan serabut syaraf AV Node dan Sino-Atrial Node (SA Node) di bagian atrium jantung yang berfungsi sebagai PACEMAKER yang mengalirkan impuls listrik melalui serabut syaraf Purkinye dari atrium jantung ke venterikel jantung (ke arah dada kiri). SA Node dalam istilah keilmuan lain merupakan Cakra Jantung. Jadi Cakra jantung bukan merupakan gambaran imajiner, tetapi sesuai dengan gambaran pusaran energi listrik yang dikeluarkan serabut-serabut saraf jantung dari SA Node, serabut syaraf Purkinye, ventrikel jantung, kemudian ke SA Node lagi (sebagai umpan balik negatif).
Dengan meletakkan tangan di atas dada dan nafas inspirasi (masuk) - ekspirasi(keluar) yang teratur maka akan merupakan tuning pada PACEMAKER untuk memperlambat detak jantung. Energi akan mengalir berputar-putar dari otak ke tangan, kemudian ke jantung kembali ke otak lagi. Energi dari tangan ini akan mengenai dan mempengaruhi PACEMAKER Sino-Atrial Node sehingga menghasilkan efek memperlambat detak jantung.
Bagaimana metode membaca Surat Fatihah supaya selaras (sinkron) antara bacaan shalat yang diucapkan lidah dan yang diucapkan qalb? Prinsipnya setiap kita mengeluarkan suara, maka kita akan mengeluarkan nafas (ekspirasi) untuk menggetarkan pita suara.
Contoh bila kita membaca Al Fatihah (9 ayat), maka sama dengan 9 kali ekspirasi. Dalam hal ini inspirasi tidak masuk dalam hitungan, karena suara akan timbul saat dalam keadaan ekspirasi.

Contoh :

Membaca Al Fatihah
Inspirasi
Ekspirasi : Bismilaahir rohmaanir rohiim
Inspirasi
Ekspirasi : Alhamdulillahi robbil 'aalamiin
Inspirasi
Ekspirasi : Ar Rohmaanir rohiim
Inspirasi
Ekspirasi : Maaliki yaumiddin
Inspirasi
Ekspirasi : Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin
Inspirasi
Ekspirasi : Ihdinaash shirothol mustaqiim
Inspirasi
Ekspirasi : Shirotholladzinaa ‘an’amta alaihim,
Inspirasi
Ekspirasi : Ghoiril maghdhubi 'alaihim
Inspirasi
Ekspirasi : Wa lazh zhooliin
Inspirasi
Ekspirasi : Aamiin

Juga saat membaca surat lain, Misalnya surat Al Ikhlash dengan metode yang sama.


Nafas saat Dzikir dalam Ruku’
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal azhiimi wa bi hamdih
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal azhiimi wa bi hamdih
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal azhiimi wa bi hamdih


Nafas saat Dzikir dalam Sujud
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal a’laa wa bi hamdih
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal a’laa wa bi hamdih
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana robbiyal a’laa wa bi hamdih

Atau doa saat sujud lainnya
Inspirasi
Ekspirasi : Subhaana kallaahumma rabbanaa wa bihamdika
Inspirasi
Ekspirasi : Allaahummagh firlii

Nafas saat Dzikir duduk diantara dua Sujud
Inspirasi
Ekspirasi : Rabigh firlii
Inspirasi
Ekspirasi : warhamnii
Inspirasi
Ekspirasi : wajburnii
Inspirasi
Ekspirasi : Warfa’nii
Inspirasi
Ekspirasi : warzuqnii
Inspirasi
Ekspirasi : Wah dinii
Inspirasi
Ekspirasi : Wa aafinii
Inspirasi
Ekspirasi : Wa fu’anii

Juga doa dan dzikir lain dapat dilakukan dengan cara yang sama.

Demikian uraian kami yang singkat ini semoga bermanfaat bagi para pecinta shalat,
Semoga Allah SWT memberikan curahan hidayah dan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Selamat mencoba ...

Monday, August 31, 2009

Nasheed














Nazeel Azami
















Mesut Kuris














Sami Yusuf
















Wednesday, September 24, 2008

SA'AD AL-GHAAMIDI

Free Download Quran MP3 : SA'AD AL-GHAAMIDI

001.AL-FATIHAH 002.AL-BAQARAH 003.ALI_IMRAAN 004.AN-NISAA 005.AL-MAA'IDAH 006.AL-AN’AAM 007.AL-A’RAAF 008.AL-ANFAAL 009.AT-TAUBAH 010.YUNUS 011.HUUD 012.YUSUF 013.AR-RA’D 014.IBRAAHIIM 015.AL-HIJR 016.AN-NAHL 017.AL-ISRAA’ 018.AL-KAHFII 019.MARYAM 020.THAAHAA 021.AL-ANBIYAA’ 022.AL-HAJJ 023.AL-MU’MINUUN 024.AN-NUUR 025.AL-FURQAAN 026.ASY-SYUU’ARAA’ 027.AN-NAML 028.AL-QASHAASH 029.AL-ANKABUUT 030.AR-RUUM 031.LUKMAN 032.AS-SAJDAH 033.AL-AHZAB 034.SABA’ 035.FATHIIR 036.YAASIIN 037.ASH-SHAAFFAAT 038.SHAAD 039.AZ-ZUMAR 040.AL-MU’MIN(GHAAFIR) 041.FUSHSHILAT 042.ASY-SYUURA 043.AZ-ZUKHRUF 044.AD-DUKHAAN 045.AL-JAATSIYAH 046.AL-AHQAAF 047.MUHAMMAD 048.AL-FATH 049.AL-HUJURAAT 050.QAAF 051.ADZ-DZAARIYAT 052.ATH-THUUR 053.AN-NAJM 054.AL-QAMAR 055.AR-RAHMAAN 056.AL-WAAQI’AAH 057.AL-HADIID 058.AL-MUJAADILAH 059.AL-HASYR 060.AL-MUMTAHANAH 061.ASH-SHAFF 062.AL-JUMU’AH 063.AL-MUNAAFIQUUN 064.AT-TAGHAABUUN 065.ATH-THALAAQ 066.AT-TAHRIIM 067.AL-MULK 068.AL-QALAM 069.AL-HAQQAH 070.AL-MA’AARIJ 071.NUH 072.AL-JIN 073.AL-MUZZAMMIL 074.AL-MUDDATSIR 075.AL-QIYAAMAH 076.AL-INSAAN 077.AL-MURSALAAT 078.AN-NABA’ 079.AN-NAAZI’AAT 080.‘ABASA 081.AT-TAKWIR 082.AL-INFITHAAR 083.AL-MUTAFFIFIIN 084.AL-INSYIQAAQ 085.AL-BURUUJ 086.ATH-THAARIQ 087.AL-A’LAA 088.AL-GHAASYIYAH 089.AL-FAJR 090.AL-BALAD 091.ASY-SYAMS 092.AL-LAIL 093.ADH-DHUHAA 094.ALAM NASYRAH 095.AT-TIIN 096.AL-‘ALAQ 097.AL-QADR 098.AL-BAYYINAH 099.AZ-ZALZALAH 100.AL-‘AADIYAAT 101.AL-QAARI’AH 102.AT-TAKAATSUR 103.AL-‘ASHR 104.AL-HUMAZAH 105.AL-FIIL 106.QURASY 107.AL-MAA’UUN 108.AL-KAUTSAR 109.AL-KAAFIRUUN 110.AN-NASHR 111.AL-LAHAB 112.AL-IKHLASH 113.AL-FALAQ 114.AN-NAAS

ABDULLAH 'AWWAD AL-JUHAYNEE

Free Download Quran MP3 : ABDULLAH 'AWWAD AL-JUHAYNEE

001.AL-FATIHAH 002.AL-BAQARAH 003.ALI_IMRAAN 004.AN-NISAA 005.AL-MAA'IDAH 006.AL-AN’AAM 007.AL-A’RAAF 008.AL-ANFAAL 009.AT-TAUBAH 010.YUNUS 011.HUUD 012.YUSUF 013.AR-RA’D 014.IBRAAHIIM 015.AL-HIJR 016.AN-NAHL 017.AL-ISRAA’ 018.AL-KAHFII 019.MARYAM 020.THAAHAA 021.AL-ANBIYAA’ 022.AL-HAJJ 023.AL-MU’MINUUN 024.AN-NUUR 025.AL-FURQAAN 026.ASY-SYUU’ARAA’ 027.AN-NAML 028.AL-QASHAASH 029.AL-ANKABUUT 030.AR-RUUM 031.LUKMAN 032.AS-SAJDAH 033.AL-AHZAB 034.SABA’ 035.FATHIIR 036.YAASIIN 037.ASH-SHAAFFAAT 038.SHAAD 039.AZ-ZUMAR 040.AL-MU’MIN(GHAAFIR) 041.FUSHSHILAT 042.ASY-SYUURA 043.AZ-ZUKHRUF 044.AD-DUKHAAN 045.AL-JAATSIYAH 046.AL-AHQAAF 047.MUHAMMAD 048.AL-FATH 049.AL-HUJURAAT 050.QAAF 051.ADZ-DZAARIYAT 052.ATH-THUUR 053.AN-NAJM 054.AL-QAMAR 055.AR-RAHMAAN 056.AL-WAAQI’AAH 057.AL-HADIID 058.AL-MUJAADILAH 059.AL-HASYR 060.AL-MUMTAHANAH 061.ASH-SHAFF 062.AL-JUMU’AH 063.AL-MUNAAFIQUUN 064.AT-TAGHAABUUN 065.ATH-THALAAQ 066.AT-TAHRIIM 067.AL-MULK 068.AL-QALAM 069.AL-HAQQAH 070.AL-MA’AARIJ 071.NUH 072.AL-JIN 073.AL-MUZZAMMIL 074.AL-MUDDATSIR 075.AL-QIYAAMAH 076.AL-INSAAN 077.AL-MURSALAAT 078.AN-NABA’ 079.AN-NAAZI’AAT 080.‘ABASA 081.AT-TAKWIR 082.AL-INFITHAAR 083.AL-MUTAFFIFIIN 084.AL-INSYIQAAQ 085.AL-BURUUJ 086.ATH-THAARIQ 087.AL-A’LAA 088.AL-GHAASYIYAH 089.AL-FAJR 090.AL-BALAD 091.ASY-SYAMS 092.AL-LAIL 093.ADH-DHUHAA 094.ALAM NASYRAH 095.AT-TIIN 096.AL-‘ALAQ 097.AL-QADR 098.AL-BAYYINAH 099.AZ-ZALZALAH 100.AL-‘AADIYAAT 101.AL-QAARI’AH 102.AT-TAKAATSUR 103.AL-‘ASHR 104.AL-HUMAZAH 105.AL-FIIL 106.QURASY 107.AL-MAA’UUN 108.AL-KAUTSAR 109.AL-KAAFIRUUN 110.AN-NASHR 111.AL-LAHAB 112.AL-IKHLASH 113.AL-FALAQ 114.AN-NAAS

Followers